Random post

HUKUM MEMOTONG RAMBUT ATAU KUKU SAAT HADAST BESAR



Ada beberapa dari kalangan wanita muslimah yang menanyakan akan hal ini kepada saya baik lewat FB maupun BBM,
Sebenarnya tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa anggota badan yang lepas menjadi api neraka. Sebab bagian tubuh yang lepas seperti rambut, kuku dan lainnya sudah bukan bagian dari jasad kita lagi begitu lepas dari tubuh. Tidak ada kewajiban untuk memandikannya atau menjaganya untuk tidak lepas selama dalam keadaan junub.
Akan tetapi para Ulama itu berbeda pendapat dalam hal ini,
Al Imam Muhammad bin Muhammad Al Ghazali menyatakan dalam kitab ihya Ulumuddin sebagai berikut:
وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْلِقَ أَوْ يُقَلِّمَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبِيْنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ تُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجِناَبَتِهَا
"Tidak seyogyanya seseorang mencukur rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluannya atau membuang sesuatu dari badannya disaat dia sedang berjunub karena seluruh bagian tubuhnya akan dikembalikan kepadanya di akhirat kelak, lalu dia akan kembali berjunub. Dikatakan bahwa setiap rambut akan menuntutnya dengan sebab junub yang ada pada rambut tersebut." (Ihya Ulumaddin, 2/325)
Beliau mengatakan seperti itu menandakan bahwa tidak ada larangan yang sampai kepada derajat haram, jadi ada ulama yang menyatakan bahwa itu adalah makruh, hal makruh itu diambil dari beberapa kitab:
1.     Nihayatuzzain
وَمَنْ لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ لَهُ أَلَّا يُزِيْلَ شَيْئاً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْ دَمًا أَوْ شَعَرًا أَوْ ظُفْرًا حَتَّى يَغْتَسِلَ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ فَلَوْ أَزَالَهُ قَبْلَ الْغُسْلِ عَادَ عَلَيْهِ الْحَدَثُ الْأَكْبَرُ تَبْكِيْتًا لِلشَّخْصِ
"Barang siapa yang wajib mandi maka agar tidak menghilangkan satupun dari anggota badannya walaupun berupa darah atau kuku sehingga mandi, karena semua anggota badan akan kembali kepadanya di akherat. Jika dia menghilangkannya sebelum mandi maka hadats besar akan kembali kepadanya sebagia teguran kepadanya." (Nihayatuzzain, 1/31)
2. Fathul Mu'in:
وَ ) ثاَنِيْهِمَا ( تَعْمِيْمُ ) ظَاهِرُ ( بَدَنٍ حَتىَّ ) َاْلأَظْفاَرَ وَماَ تَحْتَهاَ وَ ( الشَّعْرَ ) ظَاهِرًا وَباَطِناً وَإِنْ كَثِفَ وَماَ ظَهَرَ مِنْ نَحْوِ مَنْبَتِ شَعْرَةٍ زَالَتْ قَبْلَ غَسْلِهاَ
"Syarat yang kedua yaitu meratakan air pada seluruh anggota dzohir badan hingga kuku dan di bagian bawahnya, rambut bagian luar dan dalam, yakni tempat tumbuhnya rambut yang telah lepas sebelum mandi." (Fathul Mu'in, 1/31).
3. Hasyiyah Syarwani:
أَنَّ الْأَجْزَاءَ الْمُنْفَصِلَةَ قَبْلَ الْإِغْتِسَالِ لَا يَرْتَفِعُ جَنَابَتُهَا بِغُسْلِهَا
"Bahwasanya anggota tubuh yang terpisah sebelum mandi, janabahnya tidak hilang dengan memandikannya." (Hasyiyah Syarwani, 1/84)
Akan tetapi adapula ulama yang membolehkan memotong kuku dan rambut atau berbekam walaupun dalam keadaan hadst besar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Fatkhul Baari :
وَقَالَ عَطَاءٌ : يَحْتَجِمُ الْجُنُبُ ، وَيُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ ، وَيَحْلِقُ رَأْسَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ .  وَمَا حَكاهُ عَنْ عَطَاءٍ ، مَعْنَاهُ : أَنَّ الْجُنُبَ لَا يُكْرَهُ لَهُ الْأَخْذُ مِنْ شَعَرِهِ وَظُفْرِهِ فِيْ حَالِ جَنَابَتِهِ ، وَلَا أَنْ يُخْرِجَ دَمَهُ بِحِجَامَةٍ وَغَيْرِهَا
وَلَا نَعْلَمُ فِيْ هَذَا خِلَافاً إِلَّا مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ أَبُو الْفَرَجِ الشَّيْرَازِيِّ ، أَنَّ الْجُنُبَ يُكْرَهُ لَهُ الْأَخْذُ مِنْ شَعَرِهِ وَأَظْفَارِهِ
‘Atha berkata: “Orang junub berbekam, ,mencukur kepalanya walaupun tidak berwudhu”. Apa yang diceritakan dari ‘Atha maknanya ialah bahwasanya orang junub tidak dimakruhkan memotong rambut dan kukunya ketika dia junub, dan tidak makruh mengeluarkan darahnya dengan berbekam atau lainnya. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dalam hal ini keculai apa yang dituturkan sebagaian ash_hab kami yaitu Abul Faraj asy Syairazi bahwasanya orang junub makruh memotong rambut dan kuku. (Fathul Bari Li Ibni Rajab, 1/346). Sumber kitab : Fat_hul Bari, Syarhu Shahihil Bukhari karya al Hafizh Ibn Rajab al Hanbali juz I halaman 346
Bahkan dahulu shahabat Rasulullah yaitu Sayyidina Handhalah ikut berperang di jalan Allah SWT tanpa sempat mandi janabah terlebih dahulu. Beliau yang ketika datang perintah untuk jihad, beliau sedang bermesraan dengan istrinya. Begitu mendengar panggilan jihad, beliau pun segera melompat masuk ke dalam barisan tanpa sempat mandi janabah terlebih dahulu. Di medan perang, ternyata Allah berkenan menjadikannya sebagai salah seorang syahid. Maka jasadnya dimandikan oleh para malaikat dan dikenal dengan sebutan ghasilul malaikah.
Riwayat ini menjelaskan kepada kita bahwa di masa Rasulullah pun ada orang yang ikut jihad ke medan laga tapi belum mandi janabah. Dan ketika wafat, beliau justru menjadi salah satu syuhada`, yang pasti masuk surga tanpa hisab.

Semoga tulisan penjelasan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, Aamiin

Wallohu A’lam

0 Response to "HUKUM MEMOTONG RAMBUT ATAU KUKU SAAT HADAST BESAR"

wdcfawqafwef